Fiqih Thaharah: Najis
Najis dan Cara Membersihkannya
A. Najis
Najis adalah kotoran yang wajib dibersihkan oleh setiap muslim, dengan
mencuci benda yang terkena.
Macam najis:
- Air
kencing, tinja manusia, dan hewan yang tidak halal dagingnya, telah
disepakati para ulama. Sedangkan kotoran hewan yang halal dimakan
dagingnya, hukumnya najis menurut madzhab Hanafi dan Syafi’i; dan suci
menurut madzhab Maliki dan Hanbali.
- Madzyi,
yaitu air putih lengket yang keluar ketika seseorang sedang berpikir
tentang seks dan sejenisnya.
- Wadi,
yaitu air putih yang keluar setelah buang air kecil.
- Darah
yang mengalir. Sedangkan yang sedikit di-ma’fu. Menurut madzhab Syafi’i
darah nyamuk, kutu, dan sejenisnya dima’fu jika secara umum dianggap
sedikit.
- Anjing
dan babi
- Muntahan.
- Bangkai,
kecuali mayat manusia, ikan dan belalang, dan hewan yang tidak berdarah
mengalir.
Bahagian-bahagian najis
Terbahagi kepada tiga jenis iaitu najis mughallazah (najis
berat) najis mukhaffafah (najis ringan), dan najis mutawassitah (najis
sederhana).
Najis Mughallazah (Berat)
Najis mughallazah ialah najis berat. Najis ini terdiri daripada anjing dan babi serta benda-benda yang
terjadi daripadanya. Cara menyucikan najis mughallazah:
- Bersihkan
bahagian yang terkena najis.
- Basuh
sebanyak tujuh kali. Sekali daripadanya mesti menggunakan tanah bersih
yang dicampur dengan air.
- Gunakan
air
mutlak untuk membuat
basuhan seterusnya (sebanyak enam kali) sehingga hilang bau, warna dan
rasa.
Merujuk kepada Keputusan Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan 2004-2007 Hukum Melakukan Samak terhadap Najis Mughallazah Menggunakan
Sabun Tanah Liat adalah dibolehkan (Muzakarah ke 76 pada 21-23 November 2006)
ianya seperti yang tercatat dalam teks keputusan berikut:
"Sabun yang mengandungi unsur tanah liat boleh digunakan untuk
melakukan samak najis mughallazah dengan syarat tanah tersebut suci dan
peratusan kandungan tanah dalam sabun melebihi daripada bahan-bahan yang lain
serta kaedah samak tersebut dilakukan mengikut syarak."
Najis Mukhaffafah (Ringan)
Najis mukhaffafah ialah najis ringan. Najis mukhaffafah ialah air kencing
kanak-kanak lelaki berusia di bawah dua tahun yang tidak makan atau minum
sesuatu yang lain selain susu ibu. Cara menyucikan najis mukhaffafah:
- Basuh
bahagian yang terkena najis dan lap.
- Percikkan
air di tempat yang terkena najis.
- Lap
dengan kain bersih sehingga kering.
Najis Mutawassitah (Pertengahan)
Najis mutawassitah ialah najis sederhana, iaitu segala sesuatu yang keluar
dari dubur/qubul manusia atau binatang, cecair yang memabukkan, bangkai (kecuali bangkai manusia, ikan dan belalang), serta susu, tulang dan bulu dari haiwan yang haram
dimakan. Najis mutawassitah terbahagi dua iaitu: "Najis Ainiyah"
yaitu najis yang berwujud (tampak dan dapat dilihat), misalnya kotoran manusia
atau binatang; dan "Najis Hukmiyah" iaitu najis yang tidak berwujud
(tidak tampak dan tidak terlihat), seperti air kencing yang kering. Cara
menyucikan najis mutawassitah:
- Basuh
dengan menggunakan air bersih hingga hilang warna, bau dan rasa najis
tersebut.
- Basuh
sehingga tiga kali dengan air mutlak.
B. Menghilangkan najis
Jika ada najis yang mengenai badan, pakaian manusia, atau lainnya, maka
wajib dibersihkan. Jika tidak terlihat, maka wajib dibersihkan tempatnya
sehingga dugaan kuat najis telah dibersihkan. Sedangkan pembersihan bejana yang
pernah dijilat anjing, wajib dibasuh dengan tujuh kali dan salah satunya dengan
debu.
Sedangkan sentuhan anjing dengan fisik manusia, tidak membutuhkan
pembersihan melebihi cara pembersihan yang biasa . Sedang najis sedikit yang
tidak memungkinkan dihindari, hukumnya dimaafkan. Demikianlah hukum sedikit darah
dan muntahan. Diringankan pula hukum air kencing bayi yang belum makan makanan,
hanya cukup dengan diperciki air.
C. Adab Buang Hajat
Jika seorang muslim hendak buang hajat, maka harus memperhatikan hal-hal
berikut ini:
- Tidak
membawa apapun yang ada nama Allah, kecuali jika takut hilang.
- Membaca
basmalah, isti’adzah ketika masuk, dan tidak berbicara ketika ada di
dalamnya.
- Tidak
menghadap kiblat atau membelakanginya. Hal ini harus menjadi perhatian
setiap muslim jika membangun kamar mandi.
- Jika
sedang berada di perjalanan, tidak boleh melakukannya di jalan, atau di
bawah teduhan. Harus menjauhi liang hewan.
- Tidak
kencing berdiri, kecuali jika aman dari percikan (seperti kencing di
tempat kencing yang tinggi; urinoir)
- Wajib
membersihkan najis yang ada di organ pembuangan dengan air atau dengan
benda keras lainnya, tidak dengan tangan kanan. Membersihkan tangan dengan
air dan sabun jika ada.
- Mendahulukan
kaki kiri ketika masuk dengan membaca:
اللهمّ إني أعوذ بك من الخبث والخبائث وأعوذ بك ربي أن يحضرون “, dan keluar dengan kaki kanan sambil membaca: غفرانك
Kitab Thaharah
Definisi thaharah.
Syaikh Ibnu Utsaimin menyebutkan bahwa thaharah secara istilah mempunyai dua makna:
Syaikh Ibnu Utsaimin menyebutkan bahwa thaharah secara istilah mempunyai dua makna:
- Definisi
asal yang bersifat maknawi, yaitu
sucinya hati dari kesyirikan kepada Allah dan dari kebencian kepada kaum
mukminin.
- Definisi
cabang yang bersifat zhahir -dan ini yang dimaksudkan dalam bab fiqhi-, yaitu semua perbuatan yang membolehkan orang yang berhadats untuk
melakukan shalat, berupa pembersihan najis dan penghilangan hadats.
(Asy-Syarh Al-Mumti’: 1/19)
Ibnu Rusyd berkata, “Kaum muslimin bersepakat bahwa thaharah syar’i ada dua
jenis: Thaharah dari hadats dan thaharah dari khabats (najis). Dan mereka juga
bersepakat bahwa bentuk thaharah dari hadats ada tiga bentuk: Wudhu, mandi
(junub) dan pengganti dari keduanya yaitu tayammum.” (Bidayah Al-Mujtahid: 1/5)
Para ulama memulai pembahasan fiqhi dengan kitab thaharah karena rukun
Islam terpenting setelah syahadatain adalah shalat, sedangkan shalat tidak bisa
ditegakkan kecuali setelah adanya thaharah. Kemudian, thaharah asalnya dengan
menggunakan air, makanya setelahnya diikuti dengan pembahasan seputar air.
Bab Air
Masalah pertama: Pembagian air
Masalah pertama: Pembagian air
Mayoritas ulama membagi air menjadi tiga jenis (Al-Inshaf: 1/21-22):
- Air
yang thahur (suci dan menyucikan) atau air muthlaq, yaitu air yang masih berada pada sifat asal penciptaannya, baik yang
turun dari langit maupun yang keluar dari bumi, baik yang panas maupun
yang dingin, baik yang berwarna maupun yang tidak berwarna (bening). Contohnya:
Air hujan, air laut, air sungai, air sumur, mata air, salju, geyser, dll. Termasuk
juga di dalamnya air yang sudah mengalami perubahan dari asal
penciptaannya tapi belum keluar dari keberadaannya sebagai air, contohnya:
Air mineral, air yang bercampur dengan sedikit kapur dan benda-benda suci
lainnya dan tidak mendominasi air.
- Air
thahir (suci tapi tidak menyucikan) atau air muqayyad, yaitu air yang bercampur dengan zat suci lalu mendominasi air
tersebut sehingga dia berubah dari sifat asalnya. Contohnya: Air
teh dan yang semisalnya, air sabun dan semacamnya serta air kelapa dan
yang keluar dari tumbuh-tumbuhan dan air yang sangat keruh karena
bercampur dengan tanah.
- Air
najis, yaitu air yang
kemasukan najis lalu merubah salah satu dari tiga sifatnya (baunya,
rasanya, atau warnanya). Akan datang penjelasan tambahan pada masalah
kelima.
Dalil dari pembagian ini adalah sabda
Rasulullah -shallalahu alaihi wasallam- tatkala beliau ditanya tentang air
laut, apakah dia boleh dipakai berwudhu, “Airnya adalah thahur (penyuci) dan
bangkainya halal.” (HR. Ashhab As-Sunan dari Abu Hurairah)
Sisi pendalilannya adalah seperti yang dikatakan
oleh Ibnu Muflih: “Seandainya yang beliau maksudkan dengan thahur
(menyucikan) adalah thahir (suci tapi tidak menyucikan), niscaya air
laut tidak mempunyai kelebihan dibandingkan air lainnya, karena semua orang
sudah mengetahui bahwa air laut itu suci.” (Al-Mabda’: 1/32)
Masalah kedua: Yang boleh dipakai
bersuci.
Yang boleh dipakai bersuci hanyalah air thahur atau air muthlaq. Ibnu
Al-Mundzir berkata: “Semua ulama yang kami hafal pendapatnya telah bersepakat
akan tidak bolehnya berwudhu dengan air ward (bunga), yang keluar dari pohon
dan air ushfur (bunga yang bijinya dijadikan minyak). Mereka juga bersepakat
akan tidak bolehnya bersuci kecuali dengan air muthlaq yang dinamakan sebagai
air, karena tidak boleh bersuci kecuali dengan menggunakan air sedangkan ketiga
perkara di atas tidaklah dikatakan sebagai air.” (lihat: Al-Mughni: 1/15-21 dan
Al-Majmu’: 1/ 139-142)
Dari sini diketahui semua benda cair selain air lebih tidak boleh lagi dijadikan alat bersuci, seperti: Minyak tanah, bensin, minyak goreng dan semacamnya.
Dari sini diketahui semua benda cair selain air lebih tidak boleh lagi dijadikan alat bersuci, seperti: Minyak tanah, bensin, minyak goreng dan semacamnya.
Masalah ketiga: Dalil-dalil akan
bolehnya bersuci dengan air mutlaq di atas.
Adapun air hujan, maka Allah Ta’ala berfirman, “Dan Dia menurunkan untuk
kalian air dari langit untuk menyucikan kalian.” (QS. Al-Anfal: 11). Adapun
air laut, maka telah berlalu dalam hadits Abu Hurairah di atas. Adapun air
sumur -dan termasuk di dalamnya mata air-, maka Nabi r bersabda tentang sumur
budha’ah, “Sesungguhnya air itu suci, tidak ada sesuatu pun yang
menajisinya.” (HR. Imam Tiga dari Abu Said). Adapun air salju, maka beliau
-shallallahu alaihi wasallam- mengajari dalam doa istiftah, “Ya Allah cucilah
aku dari dosa-dosaku dengan air, salju dan air yang dingin.” (HR.
Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Masalah keempat: Hukum beberapa air
yang dibahas oleh para ulama.
- Air
al-ajin, yaitu air yang
tinggal lama di suatu wadah (tong, bak yang tertutup dan semacamnya)
sampai rasa dan baunya menjadi pahit dan berbau busuk tapi tidak ada najis
yang masuk padanya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata: “Adapun air yang
tinggal lama di sebuah wadah maka dia tetap dalam sifat thahur (menycikan)
berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Al-Fatawa: 21/36) dan Ibnu
Al-Mundzir juga menukil ijma’ akan hal ini dalam Al-Ausath (1/258-259)
- Air
yang dihangatkan dengan sinar matahari.
Semua hadits-hadits yang menerangkan tentang makruhnya adalah hadits yang lemah sebagaimana bisa dilihat dalam Al-Irwa` karya Syaikh Al-Albani no. 18. Karenanya mayoritas ulama berpendapat bolehnya bersuci dengan air itu dan tidak dimakruhkan. Demikian pula tidak dimakruhkan berwudhu dengan air dihangatkan dengan api menurut mayoritas ulama (Lihat Al-Mughni: 1/27-29 dan Al-Majmu’: 1/132-137) - Air
zam-zam
Tidak dimakruhkan berwudhu dan mandi dengan air zam-zam menurut mayoritas ulama, karena tidak adanya dalil yang melarang. (Lihat Al-Mughni: 1/29-30 dan Al-Majmu’: 1/137 ) - Air
musta’mal (yang telah digunakan bersuci dan ketiga sifatnya belum
berubah).
Hukumnya tetap suci dan menyucikan, karena Ibnu Abbas (dalam riwayat Muslim) mengatakan bahwa Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pernah mandi dengan sisa air yang telah dipakai mandi oleh Maimunah -radhiallahu anha-, dan bisa dipastikan bahwa percikan air yang Maimunah siramkan ke badannya ada yang masuk kembali ke dalam bejana tersebut. Dan disebutkan dalam beberapa riwayat yang shahih bahwa para sahabat menadah bekas air wudhu Nabi untuk mereka gunakan untuk berwudhu. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla (1/182-184), Ibnu Taimiah dalam Al-Fatawa (20/519) serta Asy-Syaukani dan Syaikh Siddiq Hasan Khan dalam At-Ta’liqat Ar-Radhiah (1/100-102)
Masalah kelima: Kapan air menjadi
najis.
Ibnu Al-Mundzir berkata dalam Al-Ijma’ (10): “Para ulama bersepakat bahwa
air yang sedikit maupun yang banyak, kalau kemasukan najis yang merubah rasa
atau warna atau bau dari air tersebut maka dia menjadi najis.” Ijma’ akan hal
ini juga dinukil oleh Ibnu Taimiah dalam Al-Fatawa (21/30) dan Ibnu Hubairah
dalam Al-Ifshah (1/70).
Tidak ada perbedaan dalam hukum ini antara air yang banyak dengan air yang
sedikit, baik yang lebih dari dua qullah (270 liter atau 200 kg) maupun
yang kurang darinya, baik yang diam maupun yang mengalir (sungai dan
semacamnya). Ini yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah, Ibnu
Al-Qayyim, Ibnu Rajab, Ash-Shan’ani, Asy-Syaukani, Muhammad bin Abdil Wahhab,
Syaikh Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, Muqbil Al-Wadi’i dan selain mereka
-rahimahumullahu jami’an-.
Karenanya kalau ada air di kolam atau baskom atau timba yang kemasukan
beberapa tetas kencing atau najis yang lainnya maka dia tidaklah menjadi najis
dan tetap bisa dipakai bersuci, selama najis tersebut tidak merubah salah satu
dari ketiga sifatnya. Demikian pula tidak dimakruhkan sama sekali untuk bersuci
dengan air yang ada di wc umum selama salah satu dari ketiga sifatnya tidak
berubah, dan tidak perlu diperhatikan was-was serta keraguan yang dimasukkan
oleh setan bahwa mungkin airnya pernah terpercik kencing dan seterusnya.
Mandi Wajib
Yaitu maandi yang dilakukan apabila seseorang dalam keadaan berhadats besar.
Kaifiyyat/tata caranya: (1) Berniat lillahi ta’ala; (2) Mencuci kedua telapak tangan sambil membaca basmallah; (3) Mencuci kemaluan dengan tangan kiri; (4) Berwudlu; (5) Menyela-nyela jemari tangan dan menuangkan air ke atas kepala sebanyak 3 kali; (6) Meratakan air ke seluruh tubuh/mandi; (7) Membasuh kedua kaki; (8) Berdo’a.
Hal yang Mewajibkan Mandi
1. Bertemunya dua khitan (bersetubuh).
2. Keluar mani disebabkan oleh apapun..Ini disebut janabat/junub.
3. Mati, dan matinya bukan mati syahid.
4. Karena selesai nifas (bersalin; setelah selesai berhentinya keluar darah sesudah melahirkan).
5. Karena wiladah (setelah melahirkan).6. Karena selesai haid.
Fardlu Mandi
Niat: pada saat memulai membasuh tubuh. Lafazh niat mandi wajib: "nawaitul ghusla liraf'il hadatsil akbari janabati fardlal lillaahi ta'aalaa" (artinya: aku berniat mandi wajib untuk menghilangkan hadats besar dan najis fardlu karena Allah).
Membasuh seluruh badan dengan air, yakni meratakan air ke semua rambut dan kulit.
Keramas,lalu membasuhnya sebanyak 7 kali
Lalu berwudhu, namun membasuh semua setiap bagiannya dengan penuh.berbeda dengan berwudhu biasa.
Terakhir menyiram seluruh anggota tubuh sebanyak 3 kali,dimulai dari kanan lalu di lanjutkan yang kiri.
setelah selesai mengucapkan "Alhammdulillah".
Sunnah Mandi
Yaitu maandi yang dilakukan apabila seseorang dalam keadaan berhadats besar.
Kaifiyyat/tata caranya: (1) Berniat lillahi ta’ala; (2) Mencuci kedua telapak tangan sambil membaca basmallah; (3) Mencuci kemaluan dengan tangan kiri; (4) Berwudlu; (5) Menyela-nyela jemari tangan dan menuangkan air ke atas kepala sebanyak 3 kali; (6) Meratakan air ke seluruh tubuh/mandi; (7) Membasuh kedua kaki; (8) Berdo’a.
Hal yang Mewajibkan Mandi
1. Bertemunya dua khitan (bersetubuh).
2. Keluar mani disebabkan oleh apapun..Ini disebut janabat/junub.
3. Mati, dan matinya bukan mati syahid.
4. Karena selesai nifas (bersalin; setelah selesai berhentinya keluar darah sesudah melahirkan).
5. Karena wiladah (setelah melahirkan).6. Karena selesai haid.
Fardlu Mandi
Niat: pada saat memulai membasuh tubuh. Lafazh niat mandi wajib: "nawaitul ghusla liraf'il hadatsil akbari janabati fardlal lillaahi ta'aalaa" (artinya: aku berniat mandi wajib untuk menghilangkan hadats besar dan najis fardlu karena Allah).
Membasuh seluruh badan dengan air, yakni meratakan air ke semua rambut dan kulit.
Keramas,lalu membasuhnya sebanyak 7 kali
Lalu berwudhu, namun membasuh semua setiap bagiannya dengan penuh.berbeda dengan berwudhu biasa.
Terakhir menyiram seluruh anggota tubuh sebanyak 3 kali,dimulai dari kanan lalu di lanjutkan yang kiri.
setelah selesai mengucapkan "Alhammdulillah".
Sunnah Mandi
- Mendahulukan
membasuh segala kotoran dan najis dari seluruh badan.
- Membaca
"Bismillaahirrahmaanirrahiim" pada permulaan mandi.
- Menghadap
kiblat sewaktu mandi dan mendahulukan yang kanan daripada yang kiri.
- Membasuh
badan sampai tiga kali.
- Membaca
doa sebagaimana membaca doa sesudah berwudlu.
- Mendahulukan
mengambil air wudlu, yakni sebelum mandi disunnatkan berwudlu lebih
dahulu.
Adapun tata caranya adalah berdasarkan hadits dari jalan Aisyah ra., ia berkata, Dahulu, jika Rasulullah SAW hendak mandi janabah (junub), beliau membasuh kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Lantas berwudhu sebagaimana berwudhu untuk salat. Lalu beliau mengambil air dan memasukan jari - jemarinya ke pangkal rambut. Hingga beliau menganggap telah cukup, beliau tuangkan ke atas kepalanya sebanyak 3 kali tuangan. Setelah itu beliau guyur seluruh badannya. Kemudian beliau basuh kedua kakinya” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Pada riwayat lain dikatakan, “…dan dimasukannya jari - jari ke dalam urat rambut hingga bila dirasanya air telah membasahi kulit [kepala], disauknya dua telapak tangan lagi dan disapukannya ke kepalanya sebanyak 3 kali, kemudian dituangkan ke seluruh tubuh” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Dari hadits yang mulia di atas maka urutan tata cara mandi wajib adalah :
Membasuh kedua tangan
Membasuh kemaluan
Berwudhu sebagaimana berwudhu untuk salat [Boleh menangguhkan membasuh kedua kaki sampai selesai mandi (Fikih Sunnah hal. 154)]
Mencuci rambut dengan cara memasukan jari - jemari ke pangkal rambut
Menuangkan air ke atas kepala sebanyak 3x atau mengambil air dengan kedua tangan kemudian menyapukannya ke kepalanya.
Menguyur seluruh badan
Membasuh kaki
Larangan
Bagi mereka yang sedang ber-junub, yaitu mereka yang masih berhadats besar, tidak boleh melakukan hal-hal sbb.:
1. Melaksanakan salat.
2. Melakukan thawaf di Baitullah.
3. Memegang Kitab Suci Al-Qur'an.
4. Membawa atau mengangkat Kitab Suci Al-Qur'an.
5. Membaca Kitab Suci Al-Qur'an.
6. Berdiam diri di masjid.
Bagi mereka yang sedang haid, dilarang melakukan hal-hal seperti tersebut di atas dan ditambah larangan sebagai berikut :
1. Bersenang-senang dengan apa yang antara pusat dan lutut.
2. Berpuasa baik sunnat maupun fardlu.
3. Dijatuhi talaq (cerai).
Tayammum
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Tayammum (bahasa Arab:
تيمم)
mengacu pada tindakan mensucikan diri tanpa menggunakan air dalam Islam, yaitu dengan
menggunakan pasir
atau debu.
Tayammum dilakukan sebagai pengganti wudhu atau mandi wajib.
Hal yang membolehkan tayammum
Tayammum
diperbolehkan dilakukan hanya bila[1]:
- Tidak
adanya air yang cukup untuk wudhu atau mandi
- Tidak
mampu menggunakan air, seperti orang lemah, orang yang dipenjara,
atau takut binatang buas
- Sakit
atau memperlambat sembuh dari sakit bila menggunakan air
- Jumlah
air sedikit dan lebih dibutuhkan untuk menyambung hidup (minum).
- Tidak
adanya alat untuk menimba/mendapatkan air, meski airnya ada dalam sumur
misalnya.
- Takut
habisnya waktu salat sedangkan untuk mendapatkan air sangat jauh.
- Kondisi
yang sangat dingin dengan persyaratan tertentu
Rukun dan sunnah tayammum[2]
Rukun
tayammum ada empat, yaitu niat, mengusap muka, mengusap kedua tangan sampai
siku, dan tertib. Dalam bertayammum tidak cukup berniat menghilangkan hadats saja, sebab
tayammum tidak menghilangkan hadats. Dalam tayammum, harus berniat untuk
diperbolehkan salat.
Sedangkan
sunnah tayamum ada tiga, yaitu membaca basmalah; mendahulukan anggota kanan
dari yang kiri; dan berurutan. Sedangkan yang membatalkan tayamum juga ada
tiga, yaitu semua hal yang membatalkan wudhu, melihat air, dan riddah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar